Tampilkan postingan dengan label antariksa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label antariksa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Februari 2011

Inilah Bentuk Kekuasaan Tuhan! Hubble Tangkap Citra "Bayi" Bintang/Matahari yang Baru Lahir di Galaxi Lain

Teleskop antariksa Hubble berhasil menangkap citra bintang muda yang terbentuk di galaksi spiral bernama MGC 2841. Galaksi tersebut terletak di konstelasi Ursa Major, berjarak sekitar 36 juta tahun cahaya dari Bumi.

Citra tersebut ditangkap dengan empat filter berbeda pada Wide Field Camera 3 (WCF3) yang terdapat di teleskop Hubble. Panjang gelombang yang digunakan ada pada kisaran sinar ultraviolet, cahaya tampak, dan mendekati sinar inframerah.

Dalam citra tersebut, cahaya bintang paling terang tampak di bagian tengah galaksi. Sementara itu, yang membentuk spiral keluar adalah debu yang menjadi siluet limpahan bintang paruh baya.

Citra juga menunjukkan bintang-bintang muda yang terlihat berwarna biru. Sementara itu, yang sedikit samar adalah emisi nebula yang tampak berwarna merah jambu, menandakan "bayi" bintang yang baru saja lahir.

Jumlah bintang muda di galaksi ini cukup banyak, tetapi di sedikit tempat saja gas hidrogen memacu terbentuknya bintang. Tampaknya bintang-bintang muda yang ada menghentikan proses pembentukan bintang lebih lanjut di area mereka lahir.

Citra NGC 1841 merupakan bagian dari studi untuk memahami dan mengidentidikasi proses pembentukan bintang di semesta. Para ilmuwan mengobservasi beragam lingkungan pembentukan bintang untuk menjawab beberapa pertanyaan kunci.

Contohnya, ilmuwan berusaha menjawab bagaimana karakter lingkungan pembentukan bintang bervariasi berdasarkan komposisi dan massa jenis gas. Ilmuwan juga berupaya menjawab apa yang memicu pembentukan bintang.

Ilmuwan mengatakan, pemicu pembentukan bintang belum begitu jelas pada tipe galaksi seperti NGC 2841. Dikatakan, NGC 2841 termasuk tipe galaksi flocculent spiral, salah satunya terlihat dari lengan spiral yang pendek.

Astronom saat ini menggunakan WCF3 untuk mempelajari wilayah pembentukan bintang. Target observasi adalah gugusan (cluster) bintang dan galaksi serta tingkat kelahiran bintang di galaksi aktif seperti Messier 82 hingga galaksi kurang aktif seperti NGC 2841.

WCF3 dipasang di teleskop Hubble sejak tahun 2009. Sementara Hubble adalah proyek bersama NASA dan ESA yang diluncurkan tahun 1990. Teleskop Hubble telah direparasi sebanyak lima kali dan diperkirakan tetap kuat hingga 2014.

source
Read More >>

Taukahkamu; Mars memiliki Bagian Lingkungan yang Berwarna Biru Seperti di Bumi


Planet Mars memang terkenal dengan sebutan planet merah. Tapi, tak seluruh permukaan Mars berwarna merah ketika dicitrakan. Hasil jepretan Mars Reconaissance Orbiter NASA menunjukkan bahwa ada bagian planet itu yang berwarna biru, seperti Bumi.

Hasil jepretan yang dipublikasikan di New Scientist itu ialah bukit pasir di Kawah Rabe, wilayah berdiameter 100 kilometer di dataran tinggi belahan selatan Mars. Gundukan itu benar-benar tampak biru, seperti lautan bumi tampak dari udara.

Bukit pasir itu menutupi sebagian wilayah Kawah Rabe. Bukit pasir terbentuk dari pasir basalt di dasar kawah dan dibentuk oleh angin Mars. Citra lebih dekat menunjukkan pegunungan berstruktur mirip sidik jari, lembah, dan riak-riak.

Pertanyaan yang muncul adalah, mengapa bagian gundukan pasir tampak berwarna lebih gelap dibanding wilayah kawah lain? Salah satu kemungkinannya adalah pasir di dasar kawah bukan pasir lokal, tetapi pasir dari daerah lain yang terjebak oleh kondisi topografis daerah tersebut. Tidak ada uraian mengapa wilayah tersebut berwarna biru.

source
Read More >>

Jumat, 18 Februari 2011

Dua Galaksi Bertabrakan, Ciptakan "Keindahan" Black Hole Super Raksasa yang Menakutkan


Gambar di atas mirip cincin permata luar angkasa. Yang mengejutkan, cincin lubang hitam itu berasal dari Arp 147, sepasang galaksi sejauh 430 juta tahun cahaya dari Bumi.

Gambar komposit ini berasal dari data yang dikumpulkan Chandra X-ray Observatory dan Hubble Space Telescope milik NASA. Informasi Chandra menyebutkan data optik warna merah muda, sedangkan Hubble berwarna merah, hijau dan biru.

Arp 147 terdiri dari sisa galaksi spiral yang bertabrakan dengan galaksi elips. Tabrakan ini menghasilkan gelombang formasi bintang sehingga tampak cincin biru.Hal tersebut mengandung banyak bintang muda.

Bintang-bintang tersebut mengalami evolusi dalam beberapa juta tahun kemudian meledak, seperti supernova, sehingga menciptakan bintang-bintang neutron dan lubang hitam. Sebuah fraksi bintang neutron dan lubang hitam akan membentuk bintang pendamping.

Sembilan sumber X-ray di sekitar cincin Arp 147 tampak sangat bersinar dibandingkan lubang hitam karena memiliki bobot 10 hingga 20 kali lebih besar dari matahari. Sumber X-ray juga terdeteksi di inti galaksi merah.

Berdasarkan pengamatan ultraviolet dan teleskop NASA, ilmuwan bisa memprediksi model evolusi bintang biner sehingga memahami pembentukan bintang terkuat mungkin berakhir 15 juta tahun lalu, dalam kerangka waktu Bumi.

Hasil penelitian disampaikan penulis Saul Rappaport, Alan Levine dan Benjamin Steinhorn dari Massachusetts Institute of Technology bersama dengan David Pooley dari Eureka Scientific, di jurnal Astrophysical.

source
Read More >>

Rabu, 16 Februari 2011

Mengerikan! Dua Lubang Raksasa Menganga di Permukaan Matahari


Sebuah pesawat ulang-alik milik Jepang berhasil memotret dua lubang besar di matahari. Dua lubang ini diperkirakan adlaah jalan keluar bagi material dan gas yang kemudian menyebar ke jagad raya.

Seperti dilansir FoxNews dan dikutip Tribunnews.com, Selasa (15/2/2011), para ilmuwan ini menyebut lubang ini sebagai lubang korona. Kedua lubang ini melenguhkan medan magentik matahari yang kemudian membuat lubang di bintang superpanas di luar atmosfir.

Korona ini memberikan keleluasaan bagi gas untuk keluar. Demikian hasil deskripsi NASA mengenai penemuan dua lubang korona pada 1 Februari itu. Satelit pesawat Jepang bernama Hinode ini berhasil memotret dan satu korona muncul di bagia atas matahari sementara yang lainnya terletak di bagian bawah.

Dua lubang itu terlihat lebih gelap di banding bagian lain. Namun ada alasan mengapa bagian itu menjadi gelap. "Lubang itu lebih dingin ketimbang di bagian lain yang aktif seperti wilayah yang lebih terang di bagian kiri bawah pada bulatan matahari. Inilah alasan mengapa temperatur yang dingin penampakannya lebih gelap," demikian isi pernyataan resmi NASA.

source
Read More >>

Selasa, 15 Februari 2011

Sejarah Nama-Nama Planet di Tata surya Kita


Di dalam ilmu astronomi pun diselitkan unsur-unsur pemuja berhala dahulu kala. Ianya NYATA pada penggunaan nama-nama yang dijadikan istilah-istilah dalam Astronomi. Itulah agenda tersembunyi Iluminati dalam menyerapkan semua ajarannya dalam apa sahaja perkara yang mereka dapat. Sehinggakan nama-nama planet dalam Sistem Suria kita yang selalu kita sebut pun adalah nama-nama kepada dewa-dewi yang dipuja oleh mereka.

Mercury Planet Utarid


Mercury adalah seorang utusan, dan seorang dewa perdagangan, keuntungan dan perdagangan, anak Maia Maiestas, juga dikenali sebagai Ops, versi Rom Rhea, dan Jupiter.

Dalam bentuknya yang paling awal, beliau nampaknya berkaitan dengan dewa Etruscan Turms, namun sebahagian besar ciri dan mitologinya dipinjam daripada analogi dewa Greece, Hermes.
Mercury telah aspek dasarnya sama seperti Hermes, mengenakan kasut bersayap talaria dan petasos bersayap, serta membawa caduceus (lambang perubatan), sebatang tongkat dengan dua ular yang terjalin iaitu hadiah Apollo untuk Hermes.

Mercury juga dianggap sebagai dewa kelimpahan dan kejayaan komersil, khususnya di Gaul.
Planet Mercury dinamakan sempena namanya kerana Dewa Mercury dikatakan boleh terbang dengan sangat laju. Begitu juga dengan planet Mercury ialah planet yang paling laju mengelilingi matahari berbanding dengan planet-planet lain.


Venus Planet Kejora


Venus adalah nama kepada dewi Romawi kuno terutama berkaitan cinta, keindahan dan kesuburan, yang memainkan peranan utama dalam banyak festival keagamaan Rom dan mitos. Dari abad ketiga SM, meningkatnya Helenisasi kelas atas Rom dikenalpasti sebagai padanan dari dewi Greek Aphrodite. Venus merupakan pasangan kekasih kepada Mars. Planet Venus dinamakan sempena namanya kerana planet itu paling cantik.


Earth Planet Bumi


Beberapa sumber mengatakan bahawa Earth merupakan nama lain kepada Dewi Gaia, Dewi yang menjaga alam semesta dan memberi kemakmuran serta kehidupan. Mungkin, nama itu diberikan kepada planet tempat kita bermukim ini kerana di sini merupakan tempat yang memiliki sumber kehidupan yang sangat penting iaitu, air.

Gaia itu bermakna tanah atau Bumi. Gaia adalah primordial dewi di kuil dewa-dewi Greek kuno dan dianggap sebagai Ibu Dewi atau Dewi Agung.

Dia setara dalam kuil dewa-dewi Romawi iaitu Terra Mater atau Tellus. Romawi, tidak seperti orang Greek, tidak konsisten dalam membezakan Dewi Bumi (Tellus) dengan Dewi gandum (Ceres).


Mars – Planet Marikh


Mars adalah dewa perang Romawi, putera Juno dan Jupiter, suami kepada Bellona, dan kekasih Venus. Dia adalah yang paling menonjol daripada tentera dewa yang disembah oleh legion Romawi. Romawi menganggapnya kedua penting selepas Jupiter (dewa utama mereka). Festival nya diadakan pada bulan Mac (dinamakan untuk dia) dan Oktober.

Tidak seperti Greek, Mars umumnya dihormati dan menyaingi Jupiter sebagai dewa yang paling dihormati. Beliau juga merupakan dewa yang menyelia bandar Rom. Dia dianggap sebagai ayah legenda pengasas Rom iaitu Romulus, diyakini bahawa semua orang Romawi adalah keturunan Mars.

Perang adalah identik dengan darah yang berwarna merah. Maka planet Mars dinamakan sempena namanya kerana planet itu berwarna kemerahan.


Jupiter Planet Musytari


Dalam mitologi Romawi, Jupiter atau Jove adalah raja para dewa, dan dewa langit dan guruh. Dia adalah Zeus dalam kuil para dewa Greek.

Sebagai dewa pelindung Rom purba, dia memerintah atas hukum dan susunan sosial. Dia adalah ketua dewa Capitoline Triad, dengan saudara / isteri Juno. Jupiter juga adalah ayah kepada dewa Mars dengan Juno. Oleh kerana itu, Jupiter adalah datuk kepada Romulus and Remus, pengasas lagenda Roma.

Dia adalah putera kepada Saturn, bersama dengan saudara-saudara Neptune dan Pluto.
Raja dewa ini juga dikatakan bertubuh gergasi, maka sesuailah namanya diletakkan pada planet Jupiter kerana planet ini adalah yang terbesar di dalam Sistem Suria kita.


Saturn Planet Zuhal


Saturn adalah dewa Rom utama pertanian dan tuaian. Pada abad pertengahan dia dikenali sebagai dewa Rom pertanian, keadilan dan kekuatan; beliau memegang sabit di tangan kiri dan seikat gandum di tangan kanannya. Nama ibunya adalah Helen, atau Hel.

Dia pertama kali diidentifikasi pada zaman klasik Greek dengan dewa Cronus, dan mitologi dari dua dewa yang biasanya dicampur. Isteri Saturn ialah Ops (setara Rhea dalam mitos Romawi). Saturn adalah ayah kepada Ceres, Jupiter, Veritas, Pluto, dan Neptune, antara lain.

Saturn selain digunakan pada nama planet Saturn (Zuhal) , juga digunakan pada hari Saturday (Sabtu).


Uranus Planet Uranus


Uranus adalah bentuk Latin Ouranos, perkataan Greek untuk langit. Dalam mitologi Greek Ouranos atau Bapa Langit, wujud sebagai anak dan suami dari Gaia, Ibu Bumi (Hesiod, Theogony). Uranus dan Gaia adalah nenek moyang dari sebahagian besar dewa-dewi Greek, tetapi tidak ada kultus ditujukan langsung kepada Uranus selamat ke masa klasik

Kebanyakan orang Greek menganggap Uranus sebagai primordial (protogenos), dan tidak memberinya asal-usul. Di bawah pengaruh para ahli falsafah, Cicero, dalam De Natura Deorum ( The Nature of the Gods), mendakwa bahawa dia adalah keturunan dewa-dewa kuno aether dan Hemera, Udara dan Hari.

Menurut Nyanyian Rohani Orphic, Uranus adalah putera personifikasi malam, Nyx. Persamaannya dalam mitologi Romawi iaitu Caelus, juga daripada caelum Perkataan Latin untuk langit.


Neptune Planet Neptun


Neptune (Latin: Neptunus) adalah dewa air dan laut dalam mitologi Romawi, saudara kandung Jupiter dan Pluto. Dia adalah seiringan dengan tetapi tidak identik dengan Poseidon dewa mitologi Greek. Konsep Rom Neptune berhutang besar kepada dewa Etruscan Nethuns. Untuk beberapa waktu ia dipasangkan dengan Salacia, dewi air garam.

Neptune berkaitan juga dengan air segar, sebagai lawan kepada Oceanus, dewa dunia-laut. Seperti Poseidon, Neptune juga disembah oleh orang-orang Romawi sebagai dewa kuda, di bawah nama Neptune Equester pelindung pacuan kuda.

Planet Neptune mempunyai lautan air yang sangat luas, sesuai dengan Dewa Neptune iaitu Dewa Air dan Lautan.
Read More >>

Astronot Sukses Simulasikan Pendaratan di Mars


Sekelompok astronot secara sukses mensimulasikan sebuah pendaratan di planet Mars di dalam sebuah hangar besar di kota Moskow.

"Kelompok yang terdiri dari enam orang dari berbagai bangsa tersebut, mensimulasikan pendaratan di planet Mars, setelah dikarantina dalam simulator pesawat angkasa sejak bulan Juni," lapor surat kabar RIA Novosti. Demikian seperti yang dikutip dari Mars Daily, Senin (14/2/2011).

"Simulasi pendaratan tersebut sukses diselesaikan pada sore hari waktu Moskow," ujar seorang juru bicara dari Institute of Biomedical Problems Rusia, yang menjalankan proyek tersebut dengan European Space Agency.

Tiga astronot di misi simulasi 'Mars500' juga melakukan simulasi berjalan di Mars. Setelah berjalan 30 hari pada permukaan planet simulasi tersebut, tim tersebut akan menjalani juga misi simulasi 240 hari perjalanan kembali ke Bumi.

Pihak yang terkait mengatakan kalau misi simulasi 'Mars500' selama 520 hari tersebut dirancang untuk menguji bagaimana kondisi fisik dan mental manusia terhadap penerbangan angkasa yang lama tersebut.

source
Read More >>

Inilah Planet yang Menjadi Kandidat Pengganti Pluto (4 Kali Jupiter)


Sekelompok astronom yakin bahwa mereka telah menemukan planet baru dalam tata surya. Planet tersebut diduga berukuran empat kali lebih besar daripada Jupiter dan berada pada jarak yang sangat jauh dari Matahari.

Keberadaan planet tersebut masih perlu dibuktikan. Namun, beberapa kalangan percaya bahwa bukti-bukti telah terkumpul lewat hasil observasi teleskop NASA, WISE. Data terkait temuan planet tersebut akan dipublikasikan tahun ini.

Daniel Whitmire dari Universitas Lousiana Lafayette, AS, percaya bahwa data-data bisa membuktikan keberadaan planet itu dalam dua tahun. "Jika benar, saya dan rekan saya, John Matese, akan jungkir balik. Dan, itu tidak mudah pada usia kami," katanya.

Untuk sementara, planet itu dinamai Tyche. Nama itu diambil dari nama dewi Yunani yang menentukan nasib suatu kota. Tyche diduga merupakan planet gas raksasa, jenis planet yang sama seperti Jupiter.

Tyche diduga terdapat di bagian luar Awan Oort, sebuah kawasan "terpencil" di tata surya. Jarak planet ini dengan Matahari mencapai 15.000 kali dari jarak Matahari-Bumi atau 375 kali jarak Matahari-Pluto.

Whitmire percaya, penyusun utama Tyche adalah Hidrogen dan Helium. Ia juga mengungkapkan bahwa atmosfer planet ini mirip atmosfer Jupiter. "Anda juga bisa berharap planet ini memiliki beberapa satelit," katanya.

Umumnya, planet yang berada di wilayah Awan Oort memiliki suhu hampir nol mutlak (-273 derajat celsius). Namun, Tyche diperkirakan memiliki suhu -73 derajat celsius, 4-5 kali lebih hangat dari Pluto.

Jika terbukti kebenaran keberadaannya, Tyche akan menjadi planet kesembilan sekaligus terbesar. International Astronomical Union (IAU) akan menjadi pihak yang menyetujui atau menolak keberadaan planet ini.

Whitmire dan Matese menduga keberadaan planet berdasarkan adanya kejanggalan pada sudut kedatangan komet yang banyak terdapat di Awan Oort. Sebesar 20 persen jumlah tertentu yang muncul sejak tahun 1898 memiliki sudut datang yang lebih besar dari seharusnya.

Kemungkinan keberadaan Tyche diungkapkan Whitmire dalam wawancaranya dengan The Independent, Minggu (13/2/2011). Hasil penelitian Whitmire itu didasarkan pada adanya kejanggalan sudut datang komet yang dipublikasikan di jurnal Icarus bulan ini.

sains.kompas.com
Read More >>

Senin, 14 Februari 2011

Taukahkamu; Berapa Lama Sebuah Planet Terbentuk?


Tanya
Bagaimana sebuah planet bisa terbentuk? Lamakah prosesnya? Soal reinkarnasi planet yang Anda bilang itu apa bedanya dengan saat planet itu terbentuk pertama kali?

Jawab
Ada beberapa teori pembentukkan planet. Yang paling populer saat ini adalah pembentukkan planet dari melalui konglomerasi debu dan partikel-partikel kecil lainnya, yang mula-mula membentuk inti planet (bumi juga ada intinya).

Kemudian terus bertambah (tumbuh) menjadi sesuatu yang besar sampai akhirnya menjadi  "planet". Bisa juga tidak menjadi planet melainkan planetoid, sepertinya misalnya asteroid.

Proses ini dinamakan core accretion. Prosesnya memakan waktu 1-10 juta tahun. Namun hal tersebut masih diperdebatkan.

Sebenarnya proses reinkarnasi (second generation planet) tidak jauh berbeda dengan pembentukkan planet generasi pertama. Ketika bintang induknya menua, dan menghamburkan banyak partikel dan debu di disekitarnya, maka debu dan benda-benda tadi bisa digunakan kembali untuk membentuk inti planet dan seterusnya.

source
Read More >>

Minggu, 13 Februari 2011

Taukahkamu; Inilah yang Disebut Dengan Jarak Tahun Cahaya

Tanya: Misal jarak sebuah bintang berjuta-juta tahun cahaya jauhnya. Itu berarti peristiwa yang kita lihat saat ini adalah peristiwa yang terjadi berjuta-juta tahun lalu. Berarti ada kemungkinan pada detik ini di tata surya bintang X telah muncul planet yang berpotensi menyerupai Bumi. Apakah benar?

Jawab:
Benar. Jika kita melihat sebuah bintang di langit yang jaraknya 1 juta tahun cahaya, berarti yang kita lihat adalah sinar 1 juta tahun yang lalu. Tidak usah jauh-jauh, bintang terdekat dengan Bumi, yaitu Matahari jaraknya 8 menit cahaya. Artinya jika kita melihat matahari akan terbenam di ufuk barat, sesungguhnya matahari sudah terbenam beberapa menit yang lalu.

Jika memang si bintang berjarak 2,5 miliar tahun cahaya, dan dari cahaya yang kita terima sekarang disimpulkan usia bintang tersebut 2 miliar tahun (2,5 miliar tahun yang lalu), maka pada detik ini, usia bintang tersebut adalah 4,5 miliar tahun.

Jika bintang tersebut bersuhu 5800 Kelvin dan memiliki planet-planet dengan konfigurasi seperti planet di tata surya kita, maka ada kemungkinan besar, di salah satu planet bintang tersebut saat ini ada kehidupan mirip dengan di Bumi. Sayangnya akan sulit dibuktikan karena jika makhluk di sana mengirimkan sinyal ke Bumi kita, sinyal tersebut akan tiba 2,5 miliar tahun mendatang.

source
Read More >>

Menumpang di Asteroid yang Melintas Jadi Pilihan Jika Ingin Pergi ke Mars


Studi terbaru menemukan bahwa para penjelajah angkasa di masa mendatang bisa mencapai planet merah Mars dengan "membonceng" asteroid. Mereka akan berkendara di sisi sebelah dalam asteroid.

Mendaratkan pesawat luar angkasa di landasan batu asteroid ditinjau dapat menyiasati masalah utama setiap kali misi menuju Mars, yakni perlindungan dari sinar kosmik ataupun partikel-partikel berenergi tinggi yang banyak berkeliaran dengan kecepatan cahaya di luar angkasa.

Radiasi sinar kosmik membawa efek buruk bagi tubuh manusia. Ia dapat merusak DNA dan juga meningkatkan risiko kanker serta katarak. Penelitian pun mengungkap bahwa sejumlah tertentu radiasi akan membombardir astronaut selama ratusan hari perjalanan mengelilingi Mars akan meningkatkan risiko kanker 1-19 persen.

"Maka ketimbang memusatkan perhatian untuk membangun pelindung yang lebih baik terhadap radiasi, kita perlu memikirkan desain pesawat antariksa yang dapat melompat ke dalam dan ke luar asteroid yang tengah melintas," kata Gregory Matloff, seorang ahli fisika dari New York City College of Technology.

Taksi-asteroid ini membutuhkan luas sekitar 10 meter lebar, sudah cukup untuk memberikan perlindungan yang layak. Sejauh ini telah diketahui lima jenis asteroid yang cocok pada kriteria, dan kelimanya diperkirakan akan melewati Bumi menuju ke Mars sebelum tahun 2100.

Bagaimana pun, teori Matloff masih harus mengkaji lagi berbagai hal dan resiko, sebelum direalisasikan sebagai model baru perjalanan luar angkasa.

source
Read More >>

Ilmuwan Temukan Rahasia Bukit Pasir Mars


Bukit pasir Planet Mars dianggap sudah membeku sepanjang waktu. Namun ilmuwan menemukan salah satu pemandangan paling aktif dan penuh gejolak di planet merah itu.

Bidang gundukan yang mencakup wilayah berukuran tiga kali lipat Inggris ini berada di sekitar tepi kutub utara Mars. Foto diambil dengan kamera resolusi tinggi milik NASA, mengungkapkan bukit pasir gelap ini malah berubah secara bertahap.

Kamera HiRISE itu mengambil gambar di area yang sama setiap Mars Reconnaissance Orbiter, NASA, melewati wilayah itu selama empat tahun. Penemuan yang diterbitkan di jurnal Science ini berhasil mengejutkan operator kamera luar angkasa di University of Arizona.

“Jumlah bukit dan perubahan gelombang di kawasan itu sangat menakjubkan,” ujar wakil peneliti utama HiRISE Candice Hansen.

Tim menemukan setiap musim berganti, es karbondioksida menjadi agen utama perubahan sehingga memunculkan hembusan angin yang kuat. Lapisan musiman karbondioksida yang beku atau es kering yang menyelimuti kawasan itu di musim dingin segera berubah menjadi gas di musim semi.

“Ini adalah aliran gas yang membuat stabil pasir Mars, menyebabkan longsoran pasir dan menciptakan ceruk baru serta menciptakan bukit pasir Mars baru,” kata Hansen lagi.

Awalnya, model atmosfer Mars tidak dapat memprediksi fitur dan lanskap Mars. “Memahami bagaimana perubahan Mars setiap hari dapat menjadi langkah pertama proses kunci memahami dasar materi Mars dan perubahan sepanjang waktu,” ujar peneliti utama HiRISE Alfred McEwen.

Ada banyak kejadian di Mars yang mencakup musiman salju karbondioksida. Hal ini, kata McEwen, sebuah proses yang tidak dapat dilihat dari Bumi.

source
Read More >>

Sabtu, 12 Februari 2011

Akhirnya Ilmuwan Bongkar Rahasia Awan Jupiter


Ilmuwan berhasil menangkap gambar paling rinci dari gejolak hebat di sabuk awan Jupiter selama beberapa bulan terakhir. Kini, sabuk itu berubah putih memudar.

Gambar Sabuk Khatulistiwa Selatan (South Equatorial Belt) yang berada di bawah ekuator Jupiter ini diambil 30 November 2010 menggunakan teleskop Keck II di Hawaii. Ini mengungkapkan lapisan es di bulan Jupiter, Europa.

Sensor teleskop berhasil mendapatkan gambar di balik lapisan awan. Kini, warna lapisan sabuk bulan Jupiter itu sudah memudar.

“Alasan mengapa Jupiter tampak seperti kehilangan sabuk awan ini adalah turunnya jumlah angin sehingga mengeringkan suhu dan melenyapkan awan,” ujar Glen Orton, ilmuwan NASA.

Sabuk awan putih itu berasal dari es amonia putih yang mengambang di ketinggian ekstrem sehingga mengaburkan materi cokelat lain. Perubahan ekstrim hanya terjadi di South Equatorial Belt sehingga membuat Jupiter tampak paling unik dari objek tata surya lain.

Orton mengakui, warna badai Jupiter yang berukuran hampir tiga kali lipat Bumi ini bisa muncul kembali.

source
Read More >>

Jumat, 11 Februari 2011

Perjalanan Wisata Keluar Angkasa siap dibuka NASA


Impian wisata ke luar angkasa kian nyata. Dua perusahaan raksasa pembuat motor roket pesawat luar angkasa NASA, sedang mengembangkan roket antariksa untuk tujuan tersebut.

Alliant Techsystems of Minneapolis (ATK) dan Astrium (perusahaan Eropa yang membangun roket jenis Ariane 5 yang khusus meluncurkan satelit), Selasa (8/2/2011), mengumumkan akan membangun roket komersial yang diberi nama Liberty.

Roket baru ini adalah versi murah roket NASA, Ares 1, yang tahun lalu dibatalkan oleh Kongres Amerika Serikat dan pemerintahan Presiden Barack Obama karena biaya yang terlalu mahal.

Menurut rencana, roket Liberty akan diluncurkan tahun 2013 dan siap memulai tur wisata luar angkasa sekitar dua tahun kemudian.

source
Read More >>

Kamis, 10 Februari 2011

Awas, Asteroid Sebesar Mobil Dekati Bumi


Sebuah asteroid berukuran sebesar mobil akan melayang mendekati Bumi hari ini. Demikian prediksi tim peneliti Asteroid Watch Program NASA yang dilaporkan lewat situs Space.com. Nama asteroid tersebut adalah 2011 CA7.

Diameter asteroid itu diperkirakan sekitar 3 meter. Menurut para ilmuwan, asteroid itu akan melintas pada jarak 103.480 kilometer (km) dari Bumi. Asteroid akan berada di titik terdekat dengan Bumi pada pukul 14.25 EST atau 02.25 WIB nanti. Sayangnya, ukuran asteroid terlalu kecil sehingga tak bisa dilihat.

2011 CA7 adalah asteroid kedua yang melintas di dekat Bumi selama lima hari terakhir. Pada 4 Februari, asteroid 2011 CQ1 yang berukuran 1,3 meter melintas pada jarak 5.471 km dari Bumi.

Tim NASA mengatakan, 2011 CA7 dan 2011 CQ1 tak berpotensi menghantam Bumi. Ukuran kedua asteroid tersebut terlalu kecil sehingga akan terbakar di atmosfer. Dalam akun Twitter-mereka, tim peneliti NASA menulis, "Diprediksi bahwa asteroid kecil setiap hari melintasi area antara Bumi dan Bulan. Akan tetapi, ukurannya kecil sehingga tak bisa dilihat."

Hingga kini NASA terus mengamati asteroid-asteroid yang mendekati Bumi. Observasi dilakukan untuk mengetahui asteroid yang berpotensi menghantam Bumi dan menimbulkan bencana. Asteroid, bersama komet dan beberapa benda langit di dekat Bumi, disebut Near-Earth Object. Asteroid yang berpotensi menabrak Bumi adalah yang melayang di dekat Bumi dan berukuran lebih dari 150 meter.

source
Read More >>

Taukahkamu; Aroma Ruang Angkasa itu Seperti "Steak" Bakar


Angkasa luar ternyata memiliki bau yang kebanyakan bersumber dari bintang yang hampir mati. Campuran asap solar, logam panas, dan aroma bakaran barbeque, kira-kira seperti itulah bau ruang angkasa. Campuran bebauan dari bintang mati itu disebut polycyclic aromatic hydrocarbons.

Menurut penemu dan Direktur Laboratorium Astrofisika dan Astrokimia Pusat Penelitian Ames NASA, Louis Allamandola, molekul-molekul tersebut sepertinya berada di seluruh ruang angkasa. "Molekul tersebut juga melayang di sana selamanya, di dalam komet, meteor, dan debu angkasa," tuturnya. Hidrokarbon itu bahkan disebut-sebut sebagai bentuk awal kehidupan di Bumi. Karena itu, hidrokarbon dapat ditemukan pada batu bara, minyak, dan makanan.

Astronot sering kali melapor mencium bau steak bakar setelah berjalan di ruang angkasa. Walaupun manusia tidak bisa menghirup bebauan di ruang angkasa, saat astronot berada di luar stasiun ruang angkasa, senyawa dan komponen antariksa menempel pada baju mereka dan ikut masuk ke stasiun.

Bau ruang angkasa tercium dengan jelas saat tiga tahun lalu NASA memerintahkan Steven Pearce, pembuat wewangian Omega, untuk kembali dan menciptakan bau yang cocok untuk simulasi.

Allamandola menjelaskan, sistem tata surya kita baunya tajam dan pedas karena kaya akan karbon dan rendah oksigen. Analoginya sama dengan mobil. Jika kekurangan oksigen di dalam mobil, maka akan terlihat jelaga hitam dan bau busuk. Bintang yang kaya oksigen tercium seperti arang terpanggang.

Saat nanti kita dapat meninggalkan galaksi, baunya akan semakin menarik. Di dalam ruang angkasa yang gelap dan molekul penuh debu,  bau gula manis hingga bau telur busuk dan belerang akan tercium.

source
Read More >>

Rabu, 09 Februari 2011

Stasiun Luar Angkasa ISS Terekam saat Gerhana Matahari



Stasiun Luar Angkasa Internasional (International Space Station/ISS) terekam kamera saat melintasi matahari pada gerhana matahari sebagian 4 Januari lalu.

Momen langka tersebut berhasil diabadikan oleh seorang fotografer astronomi bernama Thierry Legault. Untuk mengabadikannya, ia sengaja membuat perhitungan dahulu guna menentukan tempat.

Akhirnya, tempat yang ditentukan adalah Muscat, ibu kota Oman, satu-satunya tempat untuk bisa memotret bulan dan ISS saat gerhana.

Legault mengungkapkan, proses pengambilan foto sangat rumit sebab ISS tampak melintasi Matahari hanya dalam waktu kurang dari sedetik. Tapi, akhirnya pada jepretan yang dilakukan saat seperlimaribu detik sejak ISS tampak melewati Matahari, Legault berhasil mengabadikannya.

Legault menggunakan kamera dan teleskop untuk mengabadikan momen langka itu. Dalam hasil jepretannya, tampak sebagian Matahari tertutupi benda berwarna hitam yang merujuk pada bulan. Sementara, dalam gambarnya Stasiun Luar Angkasa Internasional tampak seperti titik kecil di muka Matahari.

Di Muscat, gerhana Matahari sebagian bisa disaksikan selama 2 jam, pukul 11.30-13.30 waktu setempat. Sementara kota yang mengalami gerhana terbesar adalah Skelleftea di Swedia. Sebesar 90 persen muka Matahari tertutupi Bulan. Sayang sekali Indonesia tidak bisa melihat momen gerhana ini.

source
Read More >>

Inilah Tempat pengamatan bintang tertua, Cheomseongdeo



Cheomseongdae tercatat dalam sejarah sebagai peninggalan Dinasti Shilla di awal abad 7. Terletak di kota Gyeongju, Korea Selatan, Cheomseongdae merupakan tempat pengamatan bintang (observatorium) tertua sekaligus satu dari sedikit observatorium kuno yang tersisa di dunia sampai hari ini. Buku Rekor Dunia resmi mencantumkannya sebagai bangunan observatorium tertua yang masih tegak berdiri.

Bangunan yang terbuat dari batu itu dibangun pada masa pemerintahan Ratu Seondeok dan bangunannya yang masih berdiri sampai sekarang, menjadi warisan kebudayaan bangsa Korea dan salah satu objek wisata menarik di Korea Selatan.

Konstruksi Cheomseongdae diduga sengaja didesain sedemikian rupa berdasarkan filosofi-filosofi khusus. Pada bagian alasnya yang tersusun atas 12 balok batu, serta 12 tingkat pada tangga pintu masuk dan 12 lapis di bagian bawah jendela nampaknya melambangkan kedua belas bulan dalam tahun. Jumlah batu untuk menyusun menara utama yang 365 buah menandakan jumlah hari dalam satu tahun masehi.

Sebagian besar peneliti setuju akan status Cheomseongdae sebagai sebuah observatorium. Hal itu dikarenakan catatan-catatan sejarah di Korea, Jepang, dan Cina yang mendukung. Peneliti modern pertama yang meninjau Cheomseongdae, Tadashi Sekino, menyimpulkan bahwa Cheomseongdae adalah sebuah observatorium, walaupun strukturnya ganjil.

Kemudian seorang ahli meteorologi dari Jepang, Yuji Wada yang mulai mengadakan penelitian di lokasi Cheomseongdae tahun 1909 meyakinkan bahwa Cheomseongdae adalah observatorium. Pengamatan astronomi dilakukan dengan mata telanjang, dengan alat-alat seperti gnomon. Tentunya perhitungan-perhitungan khusus dilakukan dengan bantuan kalender.

Menurut penelitian pula, bangunan ini selama ratusan tahun dipakai para astronom kerajaan untuk mempelajari pergerakan bintang dan planet. Serta memperkirakan gerhana bulan dan matahari.

Kemudian setelah diinterpretasi, hasilnya dilaporkan pada raja atau ratu, untuk membantu mereka mengambil keputusan dalam upaya memperkuat otoritas kerajaan serta meningkatkan kualitas taraf kehidupan. Selain itu, Cheomseongdae dipercaya pula membantu menyingkapkan pemahaman rakyat, di zaman itu, mengenai surga dan kuasa ilahi. (Sumber: Korea Journal, Korea Travel Guide, International Council of Monuments and Sites)

source
Read More >>

Minggu, 06 Februari 2011

Benarkaah, Suku Aborigin Adalah Astronom Pertama?

Susunan batu di pinggiran kota Melbourne, Australia, menyiratkan dugaan bahwa suku Aborigin merupakan astronom pertama di dunia.

Para ilmuwan menemukan susunan batu yang diletakkan secara teratur di sebuah peternakan dekat Gunung Rothwell, sekira 50 mil di barat Melbourne. Melihat susunan batu yang begitu teratur, mereka yakin batu-batu besar itu merupakan cara suku Aborigin mengamati pergerakan matahari.


Jika dugaan itu terbukti benar, berarti susunan batu ini sudah ada jauh sebelum monumen pra-sejarah Stonehenge di Inggris serta piramida di Mesir, atau sekira 10 ribu tahun lalu.

"Batu-batu ini diletakkan secara rapi untuk mengetahui pergerakan matahari," ujar ahli astrofisika Profesor Ray Norris seperti dilansir Daily Mail, Sabtu (5/2/2011).

"Ini tidak mungkin hasil pekerjaan asal-asalan. Susunan ini membutuhkan pengaturan yang sangat teliti," lanjut Norris lagi.

Susunan batu itu ditemukan dalam posisi setengah lingkaran, dimana dua titiknya membentuk garis lurus dengan posisi matahari pada siang hari di musim panas.

Masih dibutuhkan riset lebih lanjut terkait penemuan ini. Namun, kini para ilmuwan mengetahui bahwa susunan batu di Stonehenge terbilang cukup baru dalam dunia astronomi.

Stonehenge diyakini sudah ada sejak 1.500 tahun lalu, yang didirikan untuk mengukur pergerakan matahari dan bulan.

Sementara, piramida di Mesir disinyalir berdiri sekira 3.200 tahun sebelum Masehi.

source
Read More >>

Sabtu, 05 Februari 2011

Benarkah Alam Semesta Mengembang?

Tanya:
Benarkah alam semesta mengembang sehingga jarak antargalaksi semakin besar?

Jawab:
Menurut hasil pengamatan Cosmic Microwave Background Radiation dan pengamatan Supernovae tipe Ia, disimpulkan bahwa alam semesta (universe) mengalami percepatan yang artinya terus mengembang sehingga jarak antara galaksi-galaksi (yang tidak berada dalam satu grup) rata-rata semakin menjauh satu sama lain.

Pemisalannya adalah jika kita menggambar 2 titik di permukaan di sebuah balon, dan kemudian kita meniup balon tersebut. Maka jarak kedua titik tersebut akan semakin besar. Tentu saja perlu diingat bahwa ini hanya sebagai contoh, namun bukan sesungguhnya.

source
Read More >>

NASA Klaim Temukan Tata Surya Baru

Kepler, obeservatorium luar angkasa milik NASA menemukan sistem tata surya yang terdiri dari enam buah planet mengitari bintang serupa Matahari. Oleh sejumlah astronom, planet-planet itu disebut sebagai mini Neptunus.

Lima planet baru itu mengorbit dekat dengan mataharinya (Kepler 11), lebih dekat dibandingkan dengan jarak Matahari ke planet Merkurius milik tata surya kita. Adapun planet keenam berada di jarak yang lebih jauh. Kurang lebih berjarak sama dengan jarak Matahari ke Venus.

“Ini merupakan sistem planet yang sangat rapat,” kata Jonathan Fortney, astronom dari Lick Observatory, University of California, Santa Cruz, seperti dikutip dari National Geographic, 4 Februari 2011.


Planet-planet tersebut (diberi nama Kepler 11b sampai Kepler 11g), kata Fortney, berukuran relatif kecil, mulai dari 2 hingga 4,5 kali ukuran Bumi. Selain itu, planet baru yang ditemukan juga ternyata sangat ringan. “Ini mengindikasikan bahwa sebagian besar planet-planet itu terdiri dari gas,” ucapnya.

Dari penelitian, diketahui bahwa empat dari enam planet itu memiliki atmosfir tebal yang mengandung hidrogen dan helium.

Dua planet yang lebih dekat ke bintangnya memiliki densitas yang lebih tinggi. Diperkirakan, kedua planet ini memiliki atmosfir yang sebagian besar terdiri dari air, dan hanya sedikit hidrogen dan helium.

“Dapat menemukan banyak planet milik sebuah bintang dan dapat mengkalkulasikan kandungan planet itu merupakan anugerah ilmiah,” kata Fortney. “Sama seperti paleontologis yang mempelajari spesies dinosaurus, astronom bisa melihat banyak dunia lain yang lahir bersamaan untuk lebih memahami transformasi planet-planet,” ucapnya.

Kini, kata Fortney, kita bisa melakukan perbandingan ilmiah. “Kita bisa memperkirakan bagaimana evolusi planet-planet telah menyimpang sejalan dengan waktu,” ucapnya.

source
Read More >>